Sampai Waktunya Nanti…

Udara yang mencoba masuk ke paru-paruku mendadak tercekat. Ada segumpal tangis tertahan yang menghambat lajunya. Entah, tiba-tiba datang begitu saja.

Aku mencoba menerka. Kupikir rindu sebabnya. Bukan sekadar rindu bertemu. Tapi rindu akan tawa dan keceriaan kita dulu.

Sudah cukup lama kamu mempersilakanku duduk di singgasana yang ternyata adalah bangku roller coaster. Peganganku terkadang goyah. Namun aku tak cukup bodoh untuk nekat melompat keluar dan membiarkan diriku mati begitu saja.

Aku akan bertahan. Mencoba berpegang pada apa yang bisa kujadikan pegangan. Sampai akhirnya nanti kau sendiri yang mempersilakanku turun dari sana. Atau menghentikan laju wahananya…

Buat Ibuk….

Ibuk…
Mungkin sesama perempuan, dirimu bisa mengerti. Mbok tolong bilangin sama anak ragilnya.
Dea sayang dia……

Entahlah…

Entah apa yang belum kaupahami dari keyakinanku. Dan segala sesuatu yang menghadirkan kita di sini, satu titik tempat kita ‘sempat’ melebur bagian hati masing-masing untuk merekat retakan terdahulu.

Entah apa yang belum kau mengerti dari alasanku untuk bertahan. Lebih lima purnama sudah kini. Terlintas pun tidak untuk menyerah dan pergi. Jangan tanya mengapa, kau seharusnya sudah paham.

Mungkin hanya akhir usia dan munculnya sosok perempuan dengan namamu sebagai panggilannya, yang akan membuatku berhenti.

Bagian mana dari sikap atau perkataanku yang masih gagal mengungkapkan kalimat ‘aku sayang kamu’?

Entah apa yang kutunggu saat ini.
Menunggumu benar-benar mengerti atau menunggumu berhenti pura-pura tak mengerti…

Sementara Kau Lelap Terpejam….

Malam lepas
Menyisa serpih mimpi yang terhempas
Luruh ia dari tepi bintang
Jatuh perlahan, sesekali melayang

Angin nakal
Bila jatuh, biarlah jatuh
Bila hilang, biarlah hilang
Hentikan embusanmu yang serupa napas ragunya

Seseorang di bawah sana menunggu dengan khidmat
Memejam mata, membathin tangisnya
Lantunkan lamat-lamat kalimat puja
Bahagia, pintanya

Malam lepas
Pagi bebas
Dunia kian bias
Wajahnya pias

Sang harap pergi terlalu lekas…..

Jika Dan Hanya Jika

Aku menghabiskan waktu empat menit untuk mencari sisa-sisa aromamu di jaket tebalku sebelum akhirnya aku menemukannya dan menulis ini.
Menemukan satu titik di mana wangi itu menguar adalah satu detik yang melegakan kesesakanku. Meski pada akhirnya sesak itu datang lagi bersama dua teman baiknya; rindu dan sendu.
Jika dan hanya jika, aku cukup dewasa saat ini, untuk bisa mengimbangi hidup, mengimbangi apa yang Tuhan sodorkan di hadapanku.
Jika dan hanya jika, orang memandangku lebih dari apa yang bisa ditangkap mata telanjang mereka.
Jika dan hanya jika, semuanya bisa disederhanakan, sesederhana menyederhanakan bilangan-bilangan di pelajaran matematika.
Karena kamu, adalah orang pertama yang bisa membuatku jatuh cinta dengan baik. Dan aku yakin, cinta yang kamu punya adalah cinta yang baik.
Jika dan hanya jika, semesta bersedia mewujudkan segala pinta.
Jika dan hanya jika, waktu dan keadaan mau mengerti sejenak, bahwa kita ingin abaikan mereka untuk sementara.
Hanya hingga tercipta sebuah zaman, di mana hanya ada kamu, aku dan air. Hanya hingga aku temukan cara untuk memudar semua tanya. Tanyamu.
Hanya hingga tercipta sebentuk hati, dari serpih-serpih yang terserak di sana-sini.
Jika dan hanya jika, kita bisa jatuh cinta dengan sederhana saja……

Sesuatu Tentang Hal-hal yang Tak Terceritakan

Seperti biasa, aku ingin menulis untukmu. Tanpa tahu apa yang hendak aku tulis. Ingin rasanya kulontarkan saja semua di setiap pertemuan-pertemuan singkat kita, meskipun akhirnya itu tetap hanya sebatas ingin. Alih-alih berkata-kata, rahangku mendadak mengeras, terkatup rapat. Lidah pun tergulung rapi di dalamnya.
Aku bahkan tidak tahu bagaimana menyusun kalimat. Yang keluar hanya penggalan-penggalan kata tak beraturan. Aku memang payah…

Dalam tulisanku ini juga tak sedikitpun menjelaskan apa yang sebenarnya ingin kusampaikan. Karena aku sendiri benar-benar tak tahu. Satu-satunya yang bisa kupahami hanya : aku ingin menulis untukmu, tentangmu, apapun itu.

Aku ingin menulis setiap hari, tanpa membuatmu lelah dan bosan membacanya. Tapi aku bukan seorang yang begitu piawai mengurai rasa lewat kata.

Mungkin itu sebabnya, aku lebih memilih untuk menemui barang sesaat, dalam hening, dalam diam. Biar peluk singkat itu yang ceritakan untukmu, semua yang tak sanggup terceritakan…

Ibuk, Salam Kenal….

Ibuk, salam kenal…
Ini Dea. Temen main anak ragilnya Ibuk. Dia sering, lho, cerita tentang Ibuk. Tentang gimana dia kangen sama Ibuk, tentang apa-apa aja yang jadi kebiasaannya Ibuk, nasehat-nasehatnya Ibuk. Dan dari cerita-ceritanya itu, kelihatan sekali kalau dia sungguh sangat sayang sekali sama Ibuk.
Ibuk tau, ndak? Anaknya Ibuk itu luar biasa, lho… Dia mengajarkan Dea akan banyak hal, tentang komedi, tentang musik, bahkan tentang hidup. Dia yang membuat Dea bisa membuka hatinya Dea lagi untuk Mama. Belajar untuk bisa melupakan sakit hatinya Dea dan sayang sama Mama seperti anaknya Ibuk yang sayang banget sama Ibuk. Dia selalu bisa menenangkan kalau perasaannya Dea lagi ndak enak. Pasti nanti dia ngelucu atau nasehatin Dea. Dia juga yang mendukung penuh Dea untuk mengejar mimpi-mimpinya Dea.
Ndak cuma itu, anaknya Ibuk itu juga berbakat banget, ya. Kreatifitasnya itu kayak ndak pernah abis-abis. Kelak, Dea kepingin bisa kayak anaknya Ibuk, bisa nyenengin banyak orang. Belum lagi anaknya Ibuk itu sabar banget, lho, Buk. Berkali-kali Dea ngerepotin dia terus, tapi dia ndak pernah ngeluh. Dia ndak pernah menjauhi Dea. Sama temen-temen yang lain juga begitu, dan mereka juga pada kagum sama kebesaran hati anaknya Ibuk.
Ibuk… Ibuk dan anaknya Ibuk itu beruntung sekali, lho. Ibuk punya anak yang sangat luar biasa, membanggakan dan ndemenakke, anaknya Ibuk juga punya seorang ibu yang istimewa.
Oh, iya, Buk… Anaknya Ibuk itu belakangan ini sibuk banget. Kerjaannya tambah banyak, istirahatnya jadi kurang. Tapi, semoga dengan doa dan perlindungan dari Ibuk, dia bakal baik-baik aja, yah. Dea di sini juga bakal terus ingetin dia untuk jaga kesehatan, sama seperti yang dia lakukan ke Dea.

Ibuk, semoga Ibuk baca tulisan ini, yah…
Dea tulis ini sebagai sebuah hadiah kecil untuk Ibuk, sekaligus untuk kenalan sama Ibuk.
Tetap bahagia di sana ya, Buk… :’)
Selamat Hari Ibu…. :’)

Bisikan Pagi

Dedahan pohon bergemerisik perlahan
Iringi senandung merdu dua pipit kasmaran
Menyambut perubahan warna mega
Awan tipis terlukis di rekah birunya
Semesta mulai terjaga

Kubuka lebar jendela kamar
Untaian embun menyapa di balik kabut samar
Rumput dan tanah basah, wangi menguar
Nur di ufuk timur,
Indahnya tak mampu kuungkap dalam tutur
Aku bergeming, tak sedikitpun ingin ‘tuk kembali tidur
Walau hawa dingin masih enggan pergi
Aku bertanya dalam hati, siapa yang ‘kan temaniku nikmati semua, suatu saat nanti
Namamu yang dibisikkan pagi…
:)

Seringai Laju Waktu

Ada yang sedang mengejekku
Detak laju waktu
Seolah menyeringai membiarkanku menunggu
Akan suatu hal yang tak tentu

Entah apa,
Tiada juga aku tahu
Aku hanya menunggu
Akan suatu hal yang tak tentu

Arloji di pergelangan, jam meja di sudut kamar
Semuanya seakan menyimpan rahasia
Tentang sesuatu,
Bersekongkolkah mereka denganmu

Tiada juga aku tahu
Aku hanya menunggu

Harapku bukan sekadar percik-percik semu
Kamu….
Aku….
Pada suatu waktu…

Satu Alasan

Selalu ada alasan…
Mengapa kamu ingin mengejar mimpi
Mengapa kamu bisa berada di kota ini
Mengapa ada hal-hal yang kemudian menampakkan diri

Pasti ada alasan…
Mengapa saat itu kita ada di tempat yang sama
Mengapa kamu bisa bertemu seorang teman lama
Dan akhirnya kita bertegur sapa

Kuyakin, Ia punya alasan…
Untuk menyuruhmu tawarkan secangkir kopi sebelum saatnya gereja
Meski tertunda menjadi temu yang berbeda
Dan buat waktu berlalu tanpa terasa

Mungkin hanya ada satu alasan…
Dirimu ada, ‘tuk ingatkan bibirku yang mulai lupa akan tawa…
:)

Previous Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,483 other followers